Saham 19 January 2017



Beberapa sentimen global hari ini terlihat memberikan efek positif terhadap IHSG. Ditengah gejolak pasar menjelang terpilihnya Trump, harga emas semakin melejit. Pasar yang masih wait and see terkait pelantikan Trump serta pidato Perdana Menteri Inggris Theresa May yang mengubah dugaan pasar dari hard Brexit menjadi soft Brexit, juga mempengaruhi gerak bursa global, termasuk dalam negeri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,53% ke level 5.294,78 pada perdagangan hari ini. IHSG kembali akan mencoba untuk menguji resistancenya di 5350. Sementara itu, investor asing akhirnya mulai kembali melakukan net buy sebesar Rp63,15 miliar. Net buy ini juga merupakan yang pertama kalinya sejak rally net sell selama enam hari berturut-turut.
Pada perdagangan hari ini, pasar sedang cermati beberapa berita penting di global yang sedang terjadi saat ini, diantaranya:
•Donald Trump mengatakan perusahaan Amerika sulit berkompetisi jika dollar terlalu kuat. (WSJ)
•Empire Manufacturing Amerika turun ke 6,5 dari 7,6 di Januari 2017. (Bloomberg)
•Presiden San Francisco Federal Reserve Bank John Williams mengatakan Fed Rate harus terus naik. (Reuters)
•Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan keputusan final untuk keluar dari UE akan melalui voting di parlemen. (Bloomberg)
Trump nilai dollar terlalu kuat, rupiah menguat
Indeks dollar Amerika anjlok lagi bersama yield US Treasury semalam, setelah data manufaktur Amerika memburuk. Pernyataan Trump yang tak ingin dollar terlalu kuat, mengatakan bahwa nilai dari dollar Amerika sudah terlalu tinggi karena China menekan mata uangnya. Pada malam tadi, Perdana Menteri Inggris Theresa May menyatakan tidak akan setengah-setengah dalam melaksanakan proses keluar dari Uni Eropa. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan terjadinya ‘Hard Brexit’ dan membuat gejolak dipasar semakin terasa, Pidato dari Theresa May ini juga turut serta dalam pelemahan dollar hari ini. Pergerakan dollar menjadi acuan pada titik ini dan seluruh mata tertuju pada seberapa tajam kebijakan Amerika yang akan diberlakukan nanti. Faktor ganda, yakni Brexit dan Trump, mendominasi pergerakan market pada tahun ini.
Walaupun ketidakpastian pasar masih tinggi menjelang pelantikan Trump pada 20 Januari nanti, rupiah masih berpeluang menguat. Sementara itu pada pagi ini, pk. 08.19 WIB, rupiah menguat 12 poin atau 0,09% ke Rp13.321 per dolar Amerika.
Sementara itu, harga emas Comex kontrak Februari pada hari ini dibuka menguat 0,31% ke US$ 1.212,9 per ounce, masih bertahan di level 1200. Pada perdagangan selasa kemarin, emas berhasil mendekati titik tertinggi dalam perdagangan satu bulan terakhir. Level puncak harga emas dalam satu bulan terakhir terjadi pada 17 Januari, di angka US$1.217,4 per ounce. Penguatan emas ini terjadi akibat angka inflasi yang diperkirakan akan lebih tinggi di Amerika yang akan dirilis pada rabu malam ini.
CPO berpotensi mencapai harga puncaknya
Harga minyak kelapa sawit atau CPO diperkirakan mencapai puncaknya pada Februari 2017 di level 3.400 ringgit per ton seiring dengan masalah cuaca yang membatasi pasokan. Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia selasa kemarin, harga CPO kontrak April 2017 naik 1,58% menuju 3.159 ringgit (US$708,53) per ton. Ini menunjukkan pertumbuhan 3,24% sepanjang tahun berjalan.
Tahun lalu, harga bertumbuh 25%. Efek el nino yang berlangsung sejak tahun lalu masih akan terasa di Indonesia dan Malaysia, sebagai produsen CPO terbesar di dunia, sampai paruh pertama 2017. Keduanya menyumbang 85,4% produksi global pada 2015. Peluang kenaikan harga komoditi CPO masih terbuka seiring dengan masalah cuaca yg menekan produksi Malaysia dan akan mencapai puncaknya pada kuartal pertama 2017.
Tingkat produksi CPO diperkirakan akan menurun tajam pada kuartal pertama di Malaysia, serta antara kuartal kedua dan ketiga di Indonesia. Mengetatnya pasokan dan terbatasnya persediaan akan menopang penguatan harga setidaknya pada kuartal pertama. Harga CPO bisa mencapai 3.400 ringgit per ton pada bulan depan, dan rerata harga di kuartal I/2017 senilai 3.200 ringgit per ton. Selain permasalahan pasokan, penguatan harga pada triwulan pertama juga didukung kenaikan permintaan ekspor.
Lalu, saham apa saja yang diuntungkan?
Perkiraan kenaikan harga CPO ini bahkan sudah mulai memberikan sentimen pada beberapa saham di sektor CPO seperti AALI, GZCO, dan BWPT yang terlihat mengalami kenaikan yang cukup besar ketika data tersebut keluar. Saham-saham seperti GZCO dan BWPT yang saat ini sudah mulai breakout dari resistancenya dan terlihat masih akan terus menguat. Sementara itu, AALI saat ini masih menguat mencoba untuk menguji resistance terdekatnya. Indonesia, sebagai produsen terbesar CPO di dunia selain Malaysia, akan menambah jumlah konsumsi biodieselnya. Hal ini akan memberikan dorongan terhadap saham-saham di sektor CPO tersebut.

No comments