Info 15 Juni 2017
COFFEENOMICS
Hari ini Bank Indonesia akan merilis kebijakan moneternya di mana diperkirakan tingkat suku bunga acuan (BI-7DRRR) akan dipertahankan di level 4,75% seiring dengan stabilnya tingkat nilai tukar dan terkendalinya inflasi meski FFR naik menjadi 1%-1,25%.
• Selain menaikkan FFR sebesar 25 bps, FOMC juga menyampaikan rincian terkait dengan rencana pengurangan aset neraca keuangannya secara “bertahap dan terprediksi” yang direncanakan sebesar USD50 miliar (USD30 miliar untuk treasury securities dan sebesar USD20 miliar untuk mortgage backed securities) tiap bulannya hingga mencapai sekitar USD2-2,5 triliun. Pengurangan neraca keuangan tersebut akan dilakukan pada tahun ini meski belum jelas terkait dengan waktu persisnya.
• Kenaikan tingkat FFR di tengah menurunnya tingkat inflasi dan ekspektasi inflasi AS menimbulkan pertanyaan terkait kenaikan berikutnya di semester II-2017. Ada tidaknya kenaikan FFR di sisa tahun 2017 tergantung dari fiscal policy Donald Trump terutama realisasi reformasi pajak yang diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus inflasi. Jika reformasi pajak tidak terealisasi maka kemungkinan besar pada semester selanjutnya The Fed harus memilih 3 pilihan yaitu melakukan pengurangan neraca keuangan, menaikkan tingkat FFR ke level 1,25%-1,5%, atau tidak melakukan kedua-duanya di mana opsi pertama memiliki probabilitas lebih besar dibandingkan dengan opsi lainnya. Sebagai informasi, probabilitas kenaikan FFR ke level 1,25%-1,5% pada semester II-2017 yang mengacu fed watch tools masih di bawah 50%.
• Lantas bagaimana dengan tingkat BI-7DRRR?, dengan asumsi tidak ada kenaikan harga BBM pada semester II-2017 di mana tingkat inflasi masih terkendali, rasanya masih sangat relevan untuk dipertahankan di level 4,75% hingga akhir tahun 2017.
Hari ini Bank Indonesia akan merilis kebijakan moneternya di mana diperkirakan tingkat suku bunga acuan (BI-7DRRR) akan dipertahankan di level 4,75% seiring dengan stabilnya tingkat nilai tukar dan terkendalinya inflasi meski FFR naik menjadi 1%-1,25%.
• Selain menaikkan FFR sebesar 25 bps, FOMC juga menyampaikan rincian terkait dengan rencana pengurangan aset neraca keuangannya secara “bertahap dan terprediksi” yang direncanakan sebesar USD50 miliar (USD30 miliar untuk treasury securities dan sebesar USD20 miliar untuk mortgage backed securities) tiap bulannya hingga mencapai sekitar USD2-2,5 triliun. Pengurangan neraca keuangan tersebut akan dilakukan pada tahun ini meski belum jelas terkait dengan waktu persisnya.
• Kenaikan tingkat FFR di tengah menurunnya tingkat inflasi dan ekspektasi inflasi AS menimbulkan pertanyaan terkait kenaikan berikutnya di semester II-2017. Ada tidaknya kenaikan FFR di sisa tahun 2017 tergantung dari fiscal policy Donald Trump terutama realisasi reformasi pajak yang diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus inflasi. Jika reformasi pajak tidak terealisasi maka kemungkinan besar pada semester selanjutnya The Fed harus memilih 3 pilihan yaitu melakukan pengurangan neraca keuangan, menaikkan tingkat FFR ke level 1,25%-1,5%, atau tidak melakukan kedua-duanya di mana opsi pertama memiliki probabilitas lebih besar dibandingkan dengan opsi lainnya. Sebagai informasi, probabilitas kenaikan FFR ke level 1,25%-1,5% pada semester II-2017 yang mengacu fed watch tools masih di bawah 50%.
• Lantas bagaimana dengan tingkat BI-7DRRR?, dengan asumsi tidak ada kenaikan harga BBM pada semester II-2017 di mana tingkat inflasi masih terkendali, rasanya masih sangat relevan untuk dipertahankan di level 4,75% hingga akhir tahun 2017.
Post a Comment