Info BINA 12 April 2017
Ellen May Institute
BINA
PT Bank Ina Perdana Tbk telah resmi masuk menjadi kelompok BUKU II pada awal tahun 2017 setelah modalnya tembus Rp 1 triliun. Bank berkode saham BINA di bursa lewat penambahan jumlah saham pada pertengahan Maret lalu. Berikut ulasannya.
Potensi Saham BINA
BINA merupakan salah satu perusahaan swasta yang cukup potensial di Indonesia. Hal ini dikarenakan sistem Branchless Banking yang sudah diterapkan oleh bank tersebut.
Apa itu Branchless Banking? Pada dasarnya, sistem ini merupakan salah satu cara untuk melakukan ekspansi bagi perusahaan perbankan, tanpa mengharuskan membuka cabang baru ataupun mengeluarkan biaya untuk membuat kantor fisik. Bisa dibilang ini merupakan salah satu cara efisien untuk memperluas perusahaan perbankan dengan menggunakan teknologi terkini.
BINA merupakan salah satu bank yang berhasil melakukan ekspansi dengan hal tersebut. Karena itulah, Grup Salim pun akhirnya membeli 29,02 persen saham Bank Ina melalui NS Financials Fund sebesar 10,58 persen saham dan melalui NS ASEAN Financial Fund sebesar 18,44 persen.
Rencananya, setelah mengakuisisi bank tersebut, Grup Salim akan mensinergikan sistem kantor tanpa cabang (branchless banking) Bank Ina dengan jaringan ritel Indomaret untuk meningkatkan ekspansi di kedua anak perusahaan miliknya tersebut.
Sebagai tambahan, pada pertengahan Maret kemarin, Bank Ina Perdana telah melakukan right issue yang menerbitkan 2,93 miliar saham baru dengan perbandingan 1000:1075. Dimana setiap pemegang 1 HMETD berhak untuk membeli 1 Saham baru BINA dengan nilai nominal Rp100. Adapun, harga pelaksanaan untuk right issue tersebut dipatok sebesar Rp240 per saham, dengan menunjuk PT Buana Capital Sekuritas sebagai pembeli siaga.
Dari aksi korporasi tersebut, Bank Ina mendapat dana segar sebesar Rp 695,41 miliar, dan juga memunculkan dua pemegang saham baru, yakni PT Samudra Biru dan PT Gaya Hidup Masa Kini. Dengan adanya tambahan dana segar ini, maka modal inti Bank Ina saat ini mencapai Rp 1,14 triliun atau masuk BUKU II.
Ada beberapa keuntungan yang harus Anda perhatikan terkait masuknya BINA ke level Buku II ini.
1. Dapat melakukan kegiatan produk atau aktivitas dalam rupiah dan valuta asing dengan cakupan yang lebih luas dari BUKU 1.
2. Dapat melakukan kegiatan treasury terbatas mencakup spot dan derivatif plain vanilla serta melakukan penyertaan sebesar 15% pada lembaga keuangan didalam negeri.
3. Bisa menyalurkan kredit hingga 60% dari total pembiayaan
Hal tersebut tentunya memberikan efek positif untuk saham BINA untuk terus mengembangkan usaha serta kinerja keuangannya. Sehingga tidak heran, sejak BINA mengalami kenaikan ke level BUKU II tersebut, saham ini terus mengalami lonjakan dan mencapai kenaikan melebihi 100% dalam waktu kurang dari sebulan saja.
Namun, akibat lonjakan tersebut, BINA akhirnya disuspen oleh bursa, akibat kenaikannya yang tidak wajar tersebut pada 4 April lalu, hingga waktu yang belum ditentukan.
BINA
PT Bank Ina Perdana Tbk telah resmi masuk menjadi kelompok BUKU II pada awal tahun 2017 setelah modalnya tembus Rp 1 triliun. Bank berkode saham BINA di bursa lewat penambahan jumlah saham pada pertengahan Maret lalu. Berikut ulasannya.
Potensi Saham BINA
BINA merupakan salah satu perusahaan swasta yang cukup potensial di Indonesia. Hal ini dikarenakan sistem Branchless Banking yang sudah diterapkan oleh bank tersebut.
Apa itu Branchless Banking? Pada dasarnya, sistem ini merupakan salah satu cara untuk melakukan ekspansi bagi perusahaan perbankan, tanpa mengharuskan membuka cabang baru ataupun mengeluarkan biaya untuk membuat kantor fisik. Bisa dibilang ini merupakan salah satu cara efisien untuk memperluas perusahaan perbankan dengan menggunakan teknologi terkini.
BINA merupakan salah satu bank yang berhasil melakukan ekspansi dengan hal tersebut. Karena itulah, Grup Salim pun akhirnya membeli 29,02 persen saham Bank Ina melalui NS Financials Fund sebesar 10,58 persen saham dan melalui NS ASEAN Financial Fund sebesar 18,44 persen.
Rencananya, setelah mengakuisisi bank tersebut, Grup Salim akan mensinergikan sistem kantor tanpa cabang (branchless banking) Bank Ina dengan jaringan ritel Indomaret untuk meningkatkan ekspansi di kedua anak perusahaan miliknya tersebut.
Sebagai tambahan, pada pertengahan Maret kemarin, Bank Ina Perdana telah melakukan right issue yang menerbitkan 2,93 miliar saham baru dengan perbandingan 1000:1075. Dimana setiap pemegang 1 HMETD berhak untuk membeli 1 Saham baru BINA dengan nilai nominal Rp100. Adapun, harga pelaksanaan untuk right issue tersebut dipatok sebesar Rp240 per saham, dengan menunjuk PT Buana Capital Sekuritas sebagai pembeli siaga.
Dari aksi korporasi tersebut, Bank Ina mendapat dana segar sebesar Rp 695,41 miliar, dan juga memunculkan dua pemegang saham baru, yakni PT Samudra Biru dan PT Gaya Hidup Masa Kini. Dengan adanya tambahan dana segar ini, maka modal inti Bank Ina saat ini mencapai Rp 1,14 triliun atau masuk BUKU II.
Ada beberapa keuntungan yang harus Anda perhatikan terkait masuknya BINA ke level Buku II ini.
1. Dapat melakukan kegiatan produk atau aktivitas dalam rupiah dan valuta asing dengan cakupan yang lebih luas dari BUKU 1.
2. Dapat melakukan kegiatan treasury terbatas mencakup spot dan derivatif plain vanilla serta melakukan penyertaan sebesar 15% pada lembaga keuangan didalam negeri.
3. Bisa menyalurkan kredit hingga 60% dari total pembiayaan
Hal tersebut tentunya memberikan efek positif untuk saham BINA untuk terus mengembangkan usaha serta kinerja keuangannya. Sehingga tidak heran, sejak BINA mengalami kenaikan ke level BUKU II tersebut, saham ini terus mengalami lonjakan dan mencapai kenaikan melebihi 100% dalam waktu kurang dari sebulan saja.
Namun, akibat lonjakan tersebut, BINA akhirnya disuspen oleh bursa, akibat kenaikannya yang tidak wajar tersebut pada 4 April lalu, hingga waktu yang belum ditentukan.
Post a Comment