Weekly View

Weekly View


















written by John Veter

Pasar merespon dengan cukup positif untuk data inflasi yang keluar di awal bulan Februari lalu. Kami melihat respon positif ini menjadi sebuah tolok ukur yang baik setelah pasar saham selama hampir 3 bulan pasar bergerak stagnan. IHSG sendiri dalam jangka waktu pendek masih harus menghadapi resistance yang cukup kuat di level 5,500. Tentu saja dari sisi fundamental diperlukan alasan yang cukup kuat bagi IHSG untuk menembus tahanan tersebut dan kami melihat dari beberapa laporan keuangan emiten yang telah keluar terlihat adanya perbaikan secara fundamental. Dari luar negeri kami memperhatikan respon pemerintah Amerika Serikat terkait keputusan Presiden Trump untuk larangan imigrasi beberapa negara Arab. Larangan tersebut menuai kontroversi di dalam negeri Amerika Serikat dan pihak pengadilan telah membatalkannya karena dinilai bertentangan dengan konstitusi.


INFLASI INDONESIA

Nilai inflasi di bulan Januari 2017 berada diatas perkiraan kami sebagaimana catatan minggu lalu. Inflasi bulan Januari 2017 ada di angka 0.97 atau sekitar 0.27% lebih tinggi dari perkiraan kami pada angka 0.7%. Secara garis besar angka inflasi di bulan Januari kali ini jauh lebih besar dibandingkan dengan di bulan Januari 2016 yang berada pada kisaran 0.5%.

Meskipun angka secara bulanan relatif lebih besar namun demikian secara tahunan angka inflasi di bulan Januari kali ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan angka di Januari 2016. Kami mencatat pada bulan Januari 2016 ifnlasi secara tahunan berada pada kisaran 4% sedangkan di tahun 2017 berada pada kisaran 3.49. Bahkan jika dibandingkan dengan tahun 2015 pada bulan yang sama kita melihat angka inflasi tahunan sebesar 6.96%. Dari sudut pandang ini maka tidak heran jika pasar melihat releasenya angka inflasi sebagai salah satu indikasi positif.


KONSOLIDASI PASAR

Pasar saham Indonesia masih menunggu release laporan keuangan kuartal keempat tahun 2016 dengan prediksi kami untuk saham-saham kapitalisasi besar akan memberikan kinerja yang cukup baik. Dari perbankan kami melihat kinerja BBNI yang memiliki pertumbuhan laba hingga sebesar 25% sebagai sebuah indikator positif karena sektor Finance merupakan sektor dengan kapitalisasi pasar terbesar saat ini.

Secara khusus kami melihat perbaikan pada nilai NPL gross menjadi hanya sebesar 2.93% di akhir tahun 2016 sebagai berita yang menggembirakan mengingat kinerja keuangan perbankan sangat erat kaitannya dengan nilai kredit macet. Adapun untuk NPL secara net berada pada angka 1.2%. BMRI adalah bank yang saat ini paling lambar dalam perbaikan nilai NPL sehingga kami melihat baru di pertengahan tahun 2017 kinerja laba bersihnya akan kembali pulih. Adapun BBCA dan BBRI adalah dua saham yang kami nilai baik untuk dijadikan pilihan selain dengan BBNI yang saat ini telah bergerak harganya.

Kami juga melihat kinerja positif akan dialami oleh saham-saham sektor konstruksi dan infrastruktur seiring dengan berhasilnya program Right Issue yang dilaksanakan pada akhir tahun lalu. JSMR adalah top pick kami dengna target harga terdekat berada pada level RP 5,000 atau potensi sekitar 20% dari level saat ini. Kemudian PTPP, WSKT, dan WIKA adalah pilihan kami dari sektor konstruksi yang di tahun 2017 memiliki ruang tumbuh relatif besar.

Untuk saham-saham konglomerasi seperti ASII, INDF, dan UNVR kami juga melihat potensi kinerja yang membaik setelah harga komoditas dunia relatif stabil dan pulih. Khususnya pada ASII dan INDF perbaikan di harga komoditas batubara serta CPO kami yakini akan memberikan kinerja positif pada anak perusahaan kedua emiten ini di kuartal keempat tahun 2016. TLKM juga kami lihat menjadi cukup baik seiring dengan keberhasilan perusahaan untuk menaikkan harga pulsa telepon dan internet yang secara tidak langsung meningkatkan pendapatan peruasahaan.


AMERIKA SERIKAT

Dari luar negeri sorotan kami masih terkait keputusan kontroversial Trump sebagai tolok ukur dari kebijakan-kebijakan kontroversial Trump lainnya di masa mendatang. Dengan pemberlakukan aturan larangan Imigrasi kepada 7 negara Arab yang gagal diberlakukan maka kami melihat keputusan Trump untuk proteksi amerika secara lebih jauh kemungkinan akan menghadapi tantangan yang lebih kuat di masa mendatang. Mungkin saja beberapa aturan bisa terlaksana tetapi relatif tidak akan memberikan ancaman sebagaimana yang ditakutkan.

Minggu lalu Trump sendiri telah mengumumkan untuk meninjau kembali undang undang DODD- Frank yang isinya relatif adalah usaha untuk mencegah krisis 2008 terulang. Pencabutan undang-undang tersebut jika berhasil akan membuat akselerasi sektor keuangan Amerika Serikat namun pada sisi lain juga akan meningkatkan resiko dari sistem keuangan akibat laverage dan perlindungan konsumen yang lemah. Secara data kami melihat Amerika Serikat saat ini telah tumbuh dengan baik ke era sebelum krisis 2008 dan pasar tenaga kerja mereka relatif pulih dengan baik.

Indonesia sendiri sebagai negara ekportir komoditas relatif akan diuntungkan jika Amerika Serikat mengalami pertumbuhan ekonomi. Namun demikian jika Amerika bersikeras untuk memberlakukan proteksionisme terrhadap China maka penurunan ekonomi China akan mempengaruhi sekitar 0.2% GDP Indonesia untuk setiap 1% penurunan pertumbuhan ekonomi China. Efeknya memang tidak terlalu besar mengingat sistem ekonomi Indonesia yang didimonasi oleh konsumsi masyarakat.

Demikian beberapa pandangan kami di awal minggu ini, semoga bermanfaat dan selamat bertransaksi.

No comments